Thursday, April 25, 2019

Kekawatiran menimpa diriku setiap saat

Thursday, April 25, 2019

" Atinus Kogoya, Nopinus Yanengga, Melgo Wenda, Nur Kogoya, Yumin Kogoya "
Saya mengingatkan akan diriku sendiri saat masih kuliah dulu. Saat saya punya begitu banyak waktu luang untuk mempertanyakan segala sesuatu, mengukur segala sesuatu, menimbang segala sesuatu dan menguji teori terhadap segala sesuatu.Waktu seakan-akan tidak pernah habis. Satu-satunya kekhawatiran saya adalah menjadi tua, dan membosankan. Itu sebabnya saya menenggelamkan diri dengan begitu banyak buku meleburkan diri dalam diskusi-diskusi yang (saya pikir) bermutu atau kadang-kadang berakhir buntu. Kadang saya tak sabar untuk buru-buru mentas dan menaklukkan dunia. Kelak saya tahu, bahwa sayalah yang sebenarnya ditaklukkan. Dan tahun-tahun saya di bangku universitas tidak pernah mempersiapkan saya untuk itu. Untuk menerima kenyataan bahwa dunia adalah tempat yang dingin dan kejam. Saat saya berpikir telah merdeka dari kewajiban mengerjakan tugas dan membaca buku-buku kuliah, saat itulah sebenarnya kepolosan dan kebebasan saya terenggut.

Saya adalah orang yang menunduk dan takluk. Yang mengenakan kemeja kerah putih dan dasi korporasi, mengaburkan nilai-nilai yang pernah dengan begitu ideal saya anut. Lantas saya menghabiskan tahun-tahun di depan saya. Berseru, Oh indahnya masa-masa yang penuh kebebasan itu. Namun sebenarnya saya tidak pernah ingin benar-benar kembali. Karena hidup idealis adalah hidup yang sunyi dan sepi. Bangku kuliah tidak mempersiapkanmu untuk berjuang di jalan yang tidak populer itu. Biaya dan keringat yang ku habiskan saat di bangku universitas adalah untuk mempersiapkanmu untuk memperoleh pekerjaan dan jabatan yang membanggakan, kendaraan dengan interior yang empuk dan pendingin yang nyaman, keluarga yang memandangimu dengan penuh cinta karena kebutuhan mereka tercukupkan, jalan-jalan ke Lanny Jaya, Lanny Land—dan bukan untuk membentuk diriku yang seutuhnya. Lihatlah diriku yang sekarang—dan dirimu saat kau masih memiliki sinar itu di matamu.

Kadang-kadang saya merasa jenuh melihat perjalanan pendidikan ini sungguh panjang, apalagi menuntut membaca buku-buku sesuai jurusan bahkan buku-buku yang lain sepertinya saya terkuras oleh waktu, tenaga dan pikiran. Tetapi untuk mendapatkan suatu impian ternyata perlu ada jerih lelah dan kerja keras, berkerja tidak mengenal waktu itu baik untuk menempuh satu tujuan, oleh karena itu, saya harus belajar segala hal, saya harus bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu, dan akhir saya berpikir bahwa hidup ini belajar, tidak bias mengatakan sudah cukup. Belajar menuntut ilmu akan mempersiapkan masa depan karier, karena melalui pendidikan dipersiapkan untuk bekerja, maka bias dikatakan bahwa pendidikan mencetak orang untuk bekerja.

Show comments
Hide comments